BALI….seperti
kebanyakan diceritakan orang, salah satu pulau yang terletak disebelah timur
pulau jawa ini memiliki berjuta pesona yang memikat banyak wisatawan tidak
hanya wisatawan lokal tetapi juga wisatawan asing. Bahkan para pelancong asing
rela menghabiskan banyak uang dan waktu mereka untuk berlama-lama di Bali. Mereka
bisa tingal antara satu minggu sampai satu bulan di Bali. Berbagai media massa
sering kali mengangkat Bali sebagai topik berita mereka. Dengan kebesaran nama
Bali yang sudah mendunia tersebut, tentu saja saya sebagai warga Indonesia yang
juga ikut memiliki Bali ingin sekali untuk bisa menikmati berjuta pesona yang
dimilikinya itu. Setelah sekian lama menunggu karena waktu dan finansial yang
kurang bersahabat, akhirnya penantian itupun berujung dengan dua kali kunjungan
saya ke Bali. Baru dua kali sih…masih ingin kembali kesana lagi hehe…
Untuk kedatangan
pertama, saya memutuskan menginap di daerah Kuta di salah satu hotel yang
terletak di Poppies Lane II. Alasan memilih tempat itu karena Kuta yang menjadi
ikon dari Bali dengan letaknya yang cukup strategis tersebut sangat dekat
dengan Monument Bom Bali atau juga dikenal dengan nama Ground Zero. Saya secara
pribadi sangat penasaran dan ingin tahu dimana dan bagaimana kondisi lingkungan
Legian yang terkenal dengan Club malamnya sehingga memicu Amrozi dkk untuk
meledakkan bom di area tersebut. Selain itu, Kuta cukup dekat dengan Bandara.
Waktu tempuh hanya sekitar 20 menit ketika jalanan padat dan sekitar 10 menit
kalau jalanan sepi. Tetapi kaya’nya tidak pernah sepi tuh…
Wooowww…..kata
pertama yang terucap ketika saya mencoba untuk keliling di sekitar Legian pada
malam hari. Suara musik yang cukup keras terdengar hampir disetiap café yang
ada di sepanjang jalan Legian yang sangat sempit menurut saya. Pinginnya sih
dinner….tapi tidak tahu kenapa saya tidak tertarik untuk memasuki salah satu
café tersebut. Saya hanya berkeliling kemudian kembali lagi ke daerah jalan
Pantai Kuta. Saya merasa ini bukan kehidupan saya, ngga cucok kalau untuk
ajib-ajib seperti itu….terus terang kagum, terperangah, sekaligus menikmati
perjalanan sepanjang Legian. Untuk dinner saya alihkan di salah satu restorandi
sekitar jalan Pantai Kuta. Dua malam saya di sana, setiap malam selalu
berkeliling di daerah Legian dan Kuta dengan berjalan kaki. Mungkin karena
situasinya yang selalu ramai sehingga perjalanan yang sebenarnya cukup jauh itu
sungguh tidak terasa. Saya sangat menikmati suasana ramai dengan banyak sekali
toko di kanan kiri yang menjual kerajinan-kerajinan Bali dan juga banyak barang
dengan Brand-brand ternama dunia. Cocoklah untuk yang suka belanja seperti saya
ini, meskipun hanya melihat-lihat tanpa harus membeli hehehe…Tak lupa saya juga
berkunjung ke pasar seni Sukowati dan pusat oleh-oleh Erlangga serta Krisna
yang ada di Denpasar. Saya sengaja tidak ke joger karena tidak tertarik untuk
membeli pernak pernik joger.
Pengalaman yang
cukup seru, unik dan juga “memalukan” saya alami ketika saya ke Nusa Dua.
Begini ceritanya….pagi-pagi saya berangkat dari Hotel dengan tujuan Garuda
Wisnu Kencana (GWK) dengan menyewa motor yang disediakan pihak hotel. Sebelum
berangkat saya bertanya jalur untuk menuju ke GWK dan juga ke Nusa Dua. Setelah
dapat petunjuk, berangkatlah saya…sebelum ke Denpasar sebagai tujuan terakhir
saya untuk hari itu, setelah dari GWK tempat yang saya tuju adalah Nusa Dua.
Sesampai di Nusa Dua layaknya wisatawan yang sedang liburan, saya berkeliling,
berjalan sepanjang pantai sampai pada suatu tempat yang cukup rindang, ada
burung-burung cantik yang hinggap di pepohonan sekitar tempat itu sangat
menarik saya untuk berfoto-foto. Lagi seru-serunya saya foto tiba-tiba ada
bapak-bapak berpakaian hitam-hitam model safari datang “maaf mbak…sedang apa
disini??? Ini area terbatas hanya untuk tamu hotel saja mbak” alamaaaakkkk
betapa malunya saya. Sambil cengar cengir saya meminta maaf dan berjalan ke arah
lain. Kata si bapak itu juga sambil menunjuk ke arah batu karang yang letakny
cukup jauh dari tempat saya foto-foto tadi “ kelihatan dari kamera yang ada di
sana itu mbak, mbaknya jalan-jalan di sini dari tadi”. Hadeeehhhh capek
deeeehhh…….emang sih, dari tadi yang Nampak cuma bule-bule doang yang sedang
renang, selancar, trus duduk-duduk santai di pinggir pantai. Saya pikir mereka
seperti turis-turis yang ada di pantai Kuta sedang menikmati pantai. Tidak
tahunya sepanjang pantai itu sudah dibeli oleh para pemilik hotel berbintang di
situ. Pantai yang segitu panjangnya semua sudah jadi pantai pribadi. Hebat
bener orang-orang kaya itu. Berarti turis-turis yang saya lihat itu adalah
turis-turis kaya yang sudah membeli sebagian pantai Nusa Dua untuk beberapa
waktu sepanjang mereka menginap di hotel berbintang sepanjang pantai Nusa Dua.
Pengalaman pertama yang tidak akan pernah saya lupakan.
Alhamdulillah
Tuhan memberikan saya rejeki lebih sekali lagi untuk bisa menikmati pesona
pulau Bali. Kunjungan yang kedua ini saya berniat untuk refreshing dengan
mencari tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Dari beberapa referensi saya
memutuskan untuk memilih Ubud sebagai tempat saya tinggal selama 4 (empat) hari
3 (tiga) malam disana. Di kunjungan saya yang pertama saya sudah merasakan
suasana pusat kota di Bali yang cukup padat dan ramai juga panas. Untuk
kunjungan yang kedua saya menemukan tempat yang begitu tenang, sepi dan dingin.
Sangat jauh berbeda dengan beberapa tempat yang pernah saya kunjungi di Bali
pada waktu kunjungan saya yang pertama. Suasana tradisional yang masih sangat
lekat begitu mempesona saya. Seperti yang pernah saya baca bahwa Ubud memiliki
“Taksu” yaitu aura magis yang membuat
tenang, nyaman dan selalu merindukan untuk datang kembali ke Ubud. Taksu itu
yang saat ini, saat saya memutuskan untuk menulis cerita pengalaman saya waktu
di Bali, yang sedang meliputi hati saya. Kerinduan yang tidak bisa dijelaskan
untuk bisa datang kembali kesana secepatnya. Untuk penginapan di daerah Ubud
kebanyakan berupa cottage atau villa sehingga harganya cukup menguras kocek
bagi saya yang secara keuangan ini lebihnya tidak terlalu bayak. Tidak seperti
di Kuta yang masih banyak hotel ataupun guest house yang relative bersahat
dengan kantong. Saya menginap di daerah jalan Kedewatan Ubud. Jaraknya dari
Bandara cukup jauh sekitar 1 jam atau 1 jam 15 menit. Harga taksi maupun transfer
bandara dari hotel hampir semua sama 250 ribu sekali jalan. Memang cukup mahal
karena jaraknya memang cukup jauh. Jarak dari Ubud Center pun lumayan jauh, kira-kira
15 menit di tempuh dengan naik motor.
Ubud sangat
tenang, memiliki banyak Pura yang kebetulan waktu saya datang ke sana
bertepatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan sehingga sepanjang perjalanan
dari Bandara ke Hotel banyak sekali saya melihat hiasan-hiasan dari janur di
pinggir-pinggir jalan, di pura-pura, banyak sekali warga yang sedang
sembahyang, semua terlihat begitu natural, begitu sakral dan yang pasti begitu
indah. Semual itulah yang tidak bisa saya dapatkan ketika kunjungan pertama
saya. Benar-benar suasana desa yang nyaman dan membuat rindu untuk datang
kembali kesana.
Sama halnya
ketika kunjungan saya yang pertama, di kunjungan saya yang kedua inipun saya
memiliki pengalaman yang cukup seru dan unik. Hanya karena ingin menikmati nasi
Tempong khas dari Banyuwangi dengan sambal ekstra pedas dan sayurannya yang
pernah saya rasakan pada kunjungan pertama saya dulu, saya sengaja menempuh
perjalanan yang cukup jauh dari Bedugul ke Denpasar. Kebetulan penjualnya ada
di daerah jalan Teuku Umar Denpasar. Maklum saya penyuka sambal….hehe jadi
dibela-belain meski jauh karena rasanya yang sangat pas di lidah saya dan tidak
bisa saya temukan di Surabaya, Malang atau Mojokerto tempat tinggal saya. Mumpung
ada di Denpasar sekalian menghabiskan seharian penuh itu disana mengingat
jauhnya jarak antara Denpasar dengan Ubud dari pada harus bolak balik. Pada waktu
mau kembali Hotel karena sudah malam dan gelap agak susah untuk mengingat jalan
kembali. Hampir di setiap perempatan selalu bertanya sama orang, kalau
dihitung-hitung dari Denpasar ke Ubud ada sekitar 15 sampe 20 kali nanya orang,
hadeeehhh maklum pelancong hehe….Nah yang paling seru lagi neehhh ketika saya
pingin makan steak. Saya memutuskan seharian penuh sebelum saya pulang keesokan
harinya, saya hanya menghabiskan waktu di Ubud saja tanpa kemana-mana. Saya ke
pasar Ubud, menikmati ayam Kedewatan yang cukup terkenal dan malam harinya saya
dinner di Ubud Center. Selama perjalanan di Ubud Center saya masuk ke beberapa
restoran yang ada di situ untuk menanyakan “apakah mereka menyediakan steak???”
sudah dapat dipastikan mereka menyediakan, hanya saja yang saya cari adalah
steak daging sapi bukan yang lain. Setiap saya masuk ke restoran dan saya
bertanya “ini steak daging apa??” hampir di setiap restoran mereka menjawab “PORK”,
katanya yang daging sapi kosong atau habis. hadeeeehhhh pingin makan steak aja
susah rek…karena tidak menemukan di daerah Ubud Center, saya tetap mencari di
resto-resto yang ada di sepanjang jalan menuju kembali ke hotel tempat saya
menginap sambil menyiapkan plan B ketika nanti sampai mentok saya tidak dapat
menemukannya. Hampir sampai di ujung jalan (saya lupa nama jalannya apa) dimana
sudah tidak ada lagi resto atau café, saya melihat sebuah café yang tidak ada
pengunjung sama sekali, sebenarnya itu sebuah rumah yang terasnya dimanfaatkan
untuk usaha, lampunya kurang begitu terang karena tembok bangunanya tidak
dilapisi semen jadi terlihat susunan bata merahnya yang membuat cahaya kurang
bisa memantul, di sebelahnya terdapat sawah yang cukup membuat suasana lebih
asri, dan tertulis papan nama kecil d depan café tersebut “House of Cow”
seingat saya begitu nama cafénya. Sesuai dengan namanya disitu memang
menyediakan steak dengan bahan dasarnya danging sapi. Waktu saya turun dari
motor dengan masih memakai helm saya bertanya terlebih dahulu apakah mereka
menyediakan steak seperti yang saya inginkan, seorang bapak dengan tubuhnya
yang gemuk menyambut saya sembari tersenyum menjawab “ ada mbak…disini semua
halal, daging sapi asli karena kami bukan orang Bali asli mbak!” betapa
senangnya saya setelah hampir satu jam keluar masuk resto dan café untuk
mencari daging sapi yang akhirnya ketemu di “House of Cow”. Tidak disangka
dengan tempat yang begitu sederhana tetapi memiliki makanan yang saaaaaangat
uuueeeeanak bener-bener enak masakannya. Steaknya empuk, bumbunya enak, terus
appetisernya ayam…aduh saya lupa namanya yang pasti saya belum pernah merasakan
ayam dimasak dengan bumbu seperti itu, kemudian pizzanya tipis, crispy dan
enaaaakkkk. Ternyataaaaa….pak Bondan “Mak Nyus” pernah mampir ke café itu, trus
ada beberapa artis juga lho….ngga nyangka deh. Penampilan yang biasa-biasa aja
tapi rasanya luar biasa. Kalau saya ke Ubud lagi, pasti akan mampir ke “House
of Cow” itu.
Sepertinya tidak
akan pernah ada habisnya ketika kita membicarakan Bali. Belum semua tempat di
Bali saya kunjungi dan itu memotivasi saya untuk datang dan datang lagi kesana.
Sesaat terlihat bahwa di Bali itu sama saja dengan tempat-tempat lain, tetapi
ada hal yang tidak bisa diungkapkan yang membuat kita selalu terpesona, kagum
dan ingin datang kembali kesana.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar