Go to Yudharta Seminar Akrab Banget Ninuk and Frend in Pose Senyum Pepsodent Piss Men ....!!!

Minggu, 20 Oktober 2013

Menakar Politik Pencitraan dalam Meraih Simpati Publik



Menakar Politik Pencitraan dalam Meraih Simpati Publik
Oleh. Ninuk Riswandari. S.Sos. M.Si
Penulis adalah Dosen Komunikasi 



Sungguh tidak bisa dibantah, bahwa pesta demokrasi rakyat akan mencapai puncaknya pada pemilihan umum (pemilu) presiden 2014. Aneka ragam rentetan penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah yang masih akan berlanjut pada pemilihan calon legislatif pada bulan April 2014 mendatang, puncak pesta demokrasi rakyat akan berakhir pada pemilihan presiden yang  akan digelar pada bulan Juli 2014. ( baca UU KPU)

Seiring dengan berjalannya waktu mendekati agenda pemilihan presiden 2014, semakin marak pula munculnya beberapa nama calon Presiden dan wakil Presiden baik independent maupun yang diusung oleh partai politik dalam bursa calon presiden. Beberapa partai telah mengumumkan calon presiden secara resmi. Antara lain, Partai Golkar yang mengusung Aburizal Bakrie dan Partai Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto.  Yang terbaru adalah Partai Hanura yang mengumumkan calon presiden dan calon wakil presidennya Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo.

Deklarasi telah dilakukan oleh partai politik tersebut di atas, tentunya akan dibarengi berbagai upaya-upaya untuk sosialisasi dan pencitraan terhadap para calon tersebut.  Media merupakan alat utama yang dipercaya mampu  mengemban misi  dan menampilkan citra sosok kontestan calon presiden dan calon wakil presiden . Begitu pula dengan program kerja yang begitu mempesona dan mendahulukan kepentingan rakyat. Mengurangi kemiskinan dan mensejahterakan rakyat menjadi jurus ampuh bagi kontestan agar rakyat semakin terlena dan terpesona  akan program tersebut. Dan pada gilirannya, masyarakat akan memilih para kontestan itu.

Kiranya media sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat saat ini dan memiliki andil cukup besar dalam mensukseskan pencitraan seorang tokoh. Sebagai media pandang dengar, televisi merupakan media yang paling efektif dalam mempengaruhi publik pemirsanya. Hal inilah yang dijadikan pijakan oleh para calon presiden yang sudah mendeklarasikan dirinya. Seperti kita tahu bahwa sudah muncul beberapa iklan para calon presiden dan wakil presiden dilayar televisi.

Tak bisa dibantah, melalui iklan para aktor politik ingin mengkomunikasikan kepada masyarakat luas mengenai berbagai program yang dimilikinya. Iklan inilah yang menjadi bentuk komunikasi politik para aktor politik melalui media (Mcnair:2003). Untuk merebut hati masyarakat, iklan dikemas dengan berbagai simbol untuk menggambarkan kedekatan dan keberpihakan para calon presiden terhadap permasalahan yang ada di masyarakat. Simbol-simbol diciptakan, dan masyarakat secara bertahap mempelajari emosi-emosi spesifik seperti cinta atau benci melalui simbol tersebut. Ketika penanaman simbol tersebut berhasil maka terciptalah apa yang disebut Laswell sebagai “simbol utama atau simbol kolektif”, yakni simbol yang dipadukan dengan emosi yang kuat dan memiliki kekuatan untuk menstimuli tindakan massa dalam skala luas ( Baran & Davis: 2010). Meningkatnya popularitas dan elektabilitas kandidat calon presiden inilah yang diharapkan.

Media menjadi instrumen efektif  dalam penciptaan citra dan mitos aktor politik. Dalam iklan calon presiden, ditampilkannya  calon presiden berpelukan dengan pedagang di pasar dan juga warga merupakan gambaran bahwa calon presiden merakyat, dekat dengan rakyat kecil yang berada di bawah. Berdialog dengan para siswa, berdialog dengan para pedagang kaki lima menjelaskan bahwa calon presiden peduli dengan pendidikan dan generasi muda serta memahami permasalahan dan kesulitan para pedagang kaki lima. Pada saat menampilkan iklan ucapan selamat hari raya, menggambarkan bahwa calon presiden juga memiliki ketaatan beragama dan juga penghormatan terhadap para pemeluk agama. Gambaran yang diciptakan oleh iklan media telivisi tersebut menjelaskan semua hal yang diperlukan oleh rakyat dari seorang pemimpin. Berbagai permasalahan yang telah membelit rakyat selama ini dapat diselesaikan dengan program-program yang ditawarkan calon pemimpin yang beriklan tersebut. konsekuensinya adalah dengan menjatuhkan pilihan rakyat kepada pemimpin yang bersangkutan.

Eric Louw memberikan pandangan dalam realitas komunikasi politik, bahwa terdapat tiga dimensi dalam proses politik, yakni kebijakan, manajemen proses (politik) dan hype (sesuatu yang berkaitan dengan citra). Melalui konsepsi hype inilah kita dapat mengamati kecenderungan media untuk mendramatisasi kejadian di wilayah politik. Dimensi hype menyatukan berbagai konsep yaitu: propaganda, budaya popular dan imaji (Adiputra: 2010). Gambaran yang ada pada sebuah iklan, tidak selalu dapat dibuktikan dalam dunia nyata. Pengetahuan yang diperoleh dari iklan hanyalah realitas yang dibentuk oleh para pembuat iklan. Pikiran-pikiran publik pemirsa televisi terhadap produk yang diiklankan (calon presiden) diarahkan pada gambaran tentang citra seperti yang diinginkan oleh pengiklan. Disinilah bukti kekuatan media untuk mengkonstruksi teather of mind (pikiran manusia). Sehingga ketika televisi dimatikan maka penggambaran tentang realitas itu tetap hidup dalam pikiran pemirsa. Khalayak pemirsa dijebak dalam suatu ruang yang disadarinya sebagai sesuatu yang nyata, meskipun sesungguhnya semu, maya atau khayalan belaka. Hal inilah yang disebut sebagai hiper reality (Bungin: 2008).

Realitas itulah yang disuguhkan oleh kontestan politik kandidat Presiden dan calon presiden melalui media utamanya media televisi. Performa yang ditampilkan dalam politik pencitraan seolah menegaskan bahwa keperdulian dan keberpihakan kepada masyarakat kecil seolah menjadi keniscayaan yang tidak bisa dielakkan. Pencitraan yang dilakukan seolah menjadi takdir politik yang harus dilakukan manakala nanti terpilih.

Meminjam istilah Berger dan Luckmann bahwa konstruksi sosial tidak berlangsung dalam ruang hampa, namun sarat dengan kepentingan-kepentingan. Realitas yang dikonstruksi dalam iklan para kandidat calon presiden seperti yang dijelaskan di atas, semata-mata  sebagai usaha untuk dapat memenangkan pemilihan umum 2014 mendatang. Konstruksi yang ditampilkan bagi calon presiden dan calon wakil presiden menampilkan bahwa dirinya adalah kandidat yang memihak masyarakat kecil, calon yang perduli dan anti korupsi. Maka akan menjadi paradoksalitas manakala slogan dan pencitraan itu tidak berbanding lurus dengan perilaku sosial politik para kandidat itu dalam kehidupan sehari. Biarlah rakyat yang menulis dan mencatat dalam lembar sejarah dan pena politik akan janji itu.[] semoga

Selasa, 11 Juni 2013

“SANG MUCIKARI BELIA” PENYIMPANGAN PERILAKU PADA REMAJA



Miris rasanya ketika mendengar berita tentang tertangkapnya seorang anak yang masih berumur 15 tahun dengan inisial NA menjadi mucikari di sebuah hotel yang berada di kawasan Darmokali Surabaya pada hari Minggu tanggal 6 Juni 2013 kemarin bersama tiga orang temannya yang juga masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bagaimana anak semuda itu bisa melakoni profesi yang menjadi cemo’ohan setiap orang? Apakah dia tidak memikirkan masa depannya kelak? Apakah orang tuanya tidak pernah mengawasi pergaulan anak tersebut? Banyak pertanyaan yang mengaganggu pikiran kita semua pastinya.
Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif anak pada usia 12 tahun ke atas berada pada tahap Formal Operational yang merupakan tingkat kedewasaan secara kognitif. Usia 12 tahun ke atas sudah dikategorikan pada usia remaja. Ketika anak sudah dikatakan dewasa secara kognitif berarti bahwa seorang anak sudah sanggup berpikir secara logis, mampu membedakan baik dan buruk serta mampu mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan. Ada beberapa feature yang memberi remaja kapasitas lebih besar untuk memanipulasi dan menghargai lingkungan luar dan dunia imajinasi yang mencakup pemikiran hipotetis, penyelesaian masalah yang sistematis, kemampuan untuk menggunakan simbol dan pemikiran deduksi. Remaja dapat memproyeksikan dirinya pada situasi yang melebihi pengalaman mereka saat itu, dan untuk alasan itu, mereka terbungkus dalam fantasi yang panjang. Oleh karena itu, pada masa seperti ini pengawasan orang tua sangat diperlukan.
Masa remaja merupakan masa transisi dari dari anak-anak dan dewasa. Sekali waktu mereka menjadi seperti anak-anak yang manja, minta diperhatikan dan minta dilayanai sementara di lain waktu dia menjadi pribadi yang mandiri dan tidak mau ada campur tangan orang tua. Pada masa remaja terjadi perubahan mendasar meliputi perubahan fisik, biologis, kognitif dan social yang sangat berpengaruh terhadap eksistensi dan perannya dalam berbagai dimensi kehidupan. Hal ini dapat menimbulkan konflik internal dalam diri mereka karena mereka sedang dalam proses pencarian identitas diri mereka.
            Faktor lingkungan social pergaulan sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja yang sedang mencari jati diri mereka. Pada masa anak-anak orang tua dan guru mereka adalah idola dan menjadi rujukan untuk segala keinginan mereka. Ketika sudah beranjak remaja, teman sepermainan sudah menggantikan posisi orang tua dan guru mereka sebagai rujukan sikap. Hal ini menuntut orang tua bekerja ekstra keras dalam mengawasi dan mengarahkan anak-anaknya. waktu anak-anak lebih banyak terbuang diluar rumah bersama teman-temanya. Apa yang mereka lakukan diluar rumah seringkali tidak diketahui oleh orang tua. Diberlakukannya jam bermain di luar rumah, mengetahui dengan jelas kemana tujuan anak keluar rumah, mengetahui alamat dan nomor telepon teman dekat anak, mengenal keluarga dari teman-teman sang anak adalah hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam rangka pengawasannya terhadap anak. Masih banyak lagi yang bisa dilakukan oleh orang tua sebagai upaya untuk melindungi anak-anaknya dari perilaku negatif seperti yang terjadi pada beberapa remaja yang tertangkap bersama sang mucikari belia seperti di sebutkan di atas.
Perilaku manusia dapat dibedakan menjadi perilaku positif dan perilaku negative. Adapun perilaku negative seringkali disebut dengan perilaku menyimpang. Menurut Robert M. Z. Lawang penyimpangan perilaku adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sitem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang. Sedangkan menurut Paul B.Horton, penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.
Pendapat lain yang diungkapkan oleh Lemert penyimpangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder. Penyimpangan primer adalah suatu bentuk perilaku menyimpang yang bersifat sementara dan tidak dilakukan terus-menerus sehingga masih dapat ditolerir masyarakat seperti melanggar rambu lalu lintas, buang sampah sembarangan, dll. Sedangkan penyimpangan sekunder yakni perilaku menyimpang yang tidak mendapat toleransi dari masyarakat dan umumnya dilakukan berulang kali seperti merampok, menjambret, memakai narkoba, menjadi pelacur, dan lain-lain (perpustakaan online: www.organisasi.org)
Perilaku manusia itu selalu unik dan khusus. Artinya tidak sama antar dan inter manusianya baik dalam hal kepandaian, bakat, sikap, minat maupun kepribadian. Perilaku atau aktivitas pada individu atau organisme tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh organisme yang bersangkutan baik stimulus eksternal maupun stimulus internal. Perilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, di samping itu perilaku juga berpengaruh pada lingkungan. Demikian pula lingkungan dapat mempengaruhi individu, demikian sebaliknya. Oleh sebab itu, dalam perspektif psikologi, perilaku manusia (human behavior) dipandang sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks.
Meminjam istilah Aristoteles bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, jiwa adalah sebuah tabula rasa (meja lilin) yang siap dilukis oleh pengalaman. Sang mucikari belia yang ditangkap oleh Satreskrim Polrestabes Surabaya tersebut merupakan salah satu contoh dari tabula rasa yang disebutkan oleh Aristoteles, dimana dia (NA) sebelumnya juga pernah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dan menyakitkan menjadi seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) anak. Kejadian ini merupakan tamparan keras bagi para orang tua. Bagaimana mungkin mereka bisa “kecolongan” dengan anak-anak mereka yang memiliki profesi menjadi cemo’ohan setiap orang di usia yang begitu belia.

Kamis, 16 Mei 2013

PULAU SEJUTA IMPIAN



BALI….seperti kebanyakan diceritakan orang, salah satu pulau yang terletak disebelah timur pulau jawa ini memiliki berjuta pesona yang memikat banyak wisatawan tidak hanya wisatawan lokal tetapi juga wisatawan asing. Bahkan para pelancong asing rela menghabiskan banyak uang dan waktu mereka untuk berlama-lama di Bali. Mereka bisa tingal antara satu minggu sampai satu bulan di Bali. Berbagai media massa sering kali mengangkat Bali sebagai topik berita mereka. Dengan kebesaran nama Bali yang sudah mendunia tersebut, tentu saja saya sebagai warga Indonesia yang juga ikut memiliki Bali ingin sekali untuk bisa menikmati berjuta pesona yang dimilikinya itu. Setelah sekian lama menunggu karena waktu dan finansial yang kurang bersahabat, akhirnya penantian itupun berujung dengan dua kali kunjungan saya ke Bali. Baru dua kali sih…masih ingin kembali kesana lagi hehe…

Untuk kedatangan pertama, saya memutuskan menginap di daerah Kuta di salah satu hotel yang terletak di Poppies Lane II. Alasan memilih tempat itu karena Kuta yang menjadi ikon dari Bali dengan letaknya yang cukup strategis tersebut sangat dekat dengan Monument Bom Bali atau juga dikenal dengan nama Ground Zero. Saya secara pribadi sangat penasaran dan ingin tahu dimana dan bagaimana kondisi lingkungan Legian yang terkenal dengan Club malamnya sehingga memicu Amrozi dkk untuk meledakkan bom di area tersebut. Selain itu, Kuta cukup dekat dengan Bandara. Waktu tempuh hanya sekitar 20 menit ketika jalanan padat dan sekitar 10 menit kalau jalanan sepi. Tetapi kaya’nya tidak pernah sepi tuh…

Wooowww…..kata pertama yang terucap ketika saya mencoba untuk keliling di sekitar Legian pada malam hari. Suara musik yang cukup keras terdengar hampir disetiap café yang ada di sepanjang jalan Legian yang sangat sempit menurut saya. Pinginnya sih dinner….tapi tidak tahu kenapa saya tidak tertarik untuk memasuki salah satu café tersebut. Saya hanya berkeliling kemudian kembali lagi ke daerah jalan Pantai Kuta. Saya merasa ini bukan kehidupan saya, ngga cucok kalau untuk ajib-ajib seperti itu….terus terang kagum, terperangah, sekaligus menikmati perjalanan sepanjang Legian. Untuk dinner saya alihkan di salah satu restorandi sekitar jalan Pantai Kuta. Dua malam saya di sana, setiap malam selalu berkeliling di daerah Legian dan Kuta dengan berjalan kaki. Mungkin karena situasinya yang selalu ramai sehingga perjalanan yang sebenarnya cukup jauh itu sungguh tidak terasa. Saya sangat menikmati suasana ramai dengan banyak sekali toko di kanan kiri yang menjual kerajinan-kerajinan Bali dan juga banyak barang dengan Brand-brand ternama dunia. Cocoklah untuk yang suka belanja seperti saya ini, meskipun hanya melihat-lihat tanpa harus membeli hehehe…Tak lupa saya juga berkunjung ke pasar seni Sukowati dan pusat oleh-oleh Erlangga serta Krisna yang ada di Denpasar. Saya sengaja tidak ke joger karena tidak tertarik untuk membeli pernak pernik joger.

Pengalaman yang cukup seru, unik dan juga “memalukan” saya alami ketika saya ke Nusa Dua. Begini ceritanya….pagi-pagi saya berangkat dari Hotel dengan tujuan Garuda Wisnu Kencana (GWK) dengan menyewa motor yang disediakan pihak hotel. Sebelum berangkat saya bertanya jalur untuk menuju ke GWK dan juga ke Nusa Dua. Setelah dapat petunjuk, berangkatlah saya…sebelum ke Denpasar sebagai tujuan terakhir saya untuk hari itu, setelah dari GWK tempat yang saya tuju adalah Nusa Dua. Sesampai di Nusa Dua layaknya wisatawan yang sedang liburan, saya berkeliling, berjalan sepanjang pantai sampai pada suatu tempat yang cukup rindang, ada burung-burung cantik yang hinggap di pepohonan sekitar tempat itu sangat menarik saya untuk berfoto-foto. Lagi seru-serunya saya foto tiba-tiba ada bapak-bapak berpakaian hitam-hitam model safari datang “maaf mbak…sedang apa disini??? Ini area terbatas hanya untuk tamu hotel saja mbak” alamaaaakkkk betapa malunya saya. Sambil cengar cengir saya meminta maaf dan berjalan ke arah lain. Kata si bapak itu juga sambil menunjuk ke arah batu karang yang letakny cukup jauh dari tempat saya foto-foto tadi “ kelihatan dari kamera yang ada di sana itu mbak, mbaknya jalan-jalan di sini dari tadi”. Hadeeehhhh capek deeeehhh…….emang sih, dari tadi yang Nampak cuma bule-bule doang yang sedang renang, selancar, trus duduk-duduk santai di pinggir pantai. Saya pikir mereka seperti turis-turis yang ada di pantai Kuta sedang menikmati pantai. Tidak tahunya sepanjang pantai itu sudah dibeli oleh para pemilik hotel berbintang di situ. Pantai yang segitu panjangnya semua sudah jadi pantai pribadi. Hebat bener orang-orang kaya itu. Berarti turis-turis yang saya lihat itu adalah turis-turis kaya yang sudah membeli sebagian pantai Nusa Dua untuk beberapa waktu sepanjang mereka menginap di hotel berbintang sepanjang pantai Nusa Dua. Pengalaman pertama yang tidak akan pernah saya lupakan.

Alhamdulillah Tuhan memberikan saya rejeki lebih sekali lagi untuk bisa menikmati pesona pulau Bali. Kunjungan yang kedua ini saya berniat untuk refreshing dengan mencari tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Dari beberapa referensi saya memutuskan untuk memilih Ubud sebagai tempat saya tinggal selama 4 (empat) hari 3 (tiga) malam disana. Di kunjungan saya yang pertama saya sudah merasakan suasana pusat kota di Bali yang cukup padat dan ramai juga panas. Untuk kunjungan yang kedua saya menemukan tempat yang begitu tenang, sepi dan dingin. Sangat jauh berbeda dengan beberapa tempat yang pernah saya kunjungi di Bali pada waktu kunjungan saya yang pertama. Suasana tradisional yang masih sangat lekat begitu mempesona saya. Seperti yang pernah saya baca bahwa Ubud memiliki “Taksu”  yaitu aura magis yang membuat tenang, nyaman dan selalu merindukan untuk datang kembali ke Ubud. Taksu itu yang saat ini, saat saya memutuskan untuk menulis cerita pengalaman saya waktu di Bali, yang sedang meliputi hati saya. Kerinduan yang tidak bisa dijelaskan untuk bisa datang kembali kesana secepatnya. Untuk penginapan di daerah Ubud kebanyakan berupa cottage atau villa sehingga harganya cukup menguras kocek bagi saya yang secara keuangan ini lebihnya tidak terlalu bayak. Tidak seperti di Kuta yang masih banyak hotel ataupun guest house yang relative bersahat dengan kantong. Saya menginap di daerah jalan Kedewatan Ubud. Jaraknya dari Bandara cukup jauh sekitar 1 jam atau 1 jam 15 menit. Harga taksi maupun transfer bandara dari hotel hampir semua sama 250 ribu sekali jalan. Memang cukup mahal karena jaraknya memang cukup jauh. Jarak dari Ubud Center pun lumayan jauh, kira-kira 15 menit di tempuh dengan naik motor.
Ubud sangat tenang, memiliki banyak Pura yang kebetulan waktu saya datang ke sana bertepatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan sehingga sepanjang perjalanan dari Bandara ke Hotel banyak sekali saya melihat hiasan-hiasan dari janur di pinggir-pinggir jalan, di pura-pura, banyak sekali warga yang sedang sembahyang, semua terlihat begitu natural, begitu sakral dan yang pasti begitu indah. Semual itulah yang tidak bisa saya dapatkan ketika kunjungan pertama saya. Benar-benar suasana desa yang nyaman dan membuat rindu untuk datang kembali kesana.

Sama halnya ketika kunjungan saya yang pertama, di kunjungan saya yang kedua inipun saya memiliki pengalaman yang cukup seru dan unik. Hanya karena ingin menikmati nasi Tempong khas dari Banyuwangi dengan sambal ekstra pedas dan sayurannya yang pernah saya rasakan pada kunjungan pertama saya dulu, saya sengaja menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Bedugul ke Denpasar. Kebetulan penjualnya ada di daerah jalan Teuku Umar Denpasar. Maklum saya penyuka sambal….hehe jadi dibela-belain meski jauh karena rasanya yang sangat pas di lidah saya dan tidak bisa saya temukan di Surabaya, Malang atau Mojokerto tempat tinggal saya. Mumpung ada di Denpasar sekalian menghabiskan seharian penuh itu disana mengingat jauhnya jarak antara Denpasar dengan Ubud dari pada harus bolak balik. Pada waktu mau kembali Hotel karena sudah malam dan gelap agak susah untuk mengingat jalan kembali. Hampir di setiap perempatan selalu bertanya sama orang, kalau dihitung-hitung dari Denpasar ke Ubud ada sekitar 15 sampe 20 kali nanya orang, hadeeehhh maklum pelancong hehe….Nah yang paling seru lagi neehhh ketika saya pingin makan steak. Saya memutuskan seharian penuh sebelum saya pulang keesokan harinya, saya hanya menghabiskan waktu di Ubud saja tanpa kemana-mana. Saya ke pasar Ubud, menikmati ayam Kedewatan yang cukup terkenal dan malam harinya saya dinner di Ubud Center. Selama perjalanan di Ubud Center saya masuk ke beberapa restoran yang ada di situ untuk menanyakan “apakah mereka menyediakan steak???” sudah dapat dipastikan mereka menyediakan, hanya saja yang saya cari adalah steak daging sapi bukan yang lain. Setiap saya masuk ke restoran dan saya bertanya “ini steak daging apa??” hampir di setiap restoran mereka menjawab “PORK”, katanya yang daging sapi kosong atau habis. hadeeeehhhh pingin makan steak aja susah rek…karena tidak menemukan di daerah Ubud Center, saya tetap mencari di resto-resto yang ada di sepanjang jalan menuju kembali ke hotel tempat saya menginap sambil menyiapkan plan B ketika nanti sampai mentok saya tidak dapat menemukannya. Hampir sampai di ujung jalan (saya lupa nama jalannya apa) dimana sudah tidak ada lagi resto atau café, saya melihat sebuah café yang tidak ada pengunjung sama sekali, sebenarnya itu sebuah rumah yang terasnya dimanfaatkan untuk usaha, lampunya kurang begitu terang karena tembok bangunanya tidak dilapisi semen jadi terlihat susunan bata merahnya yang membuat cahaya kurang bisa memantul, di sebelahnya terdapat sawah yang cukup membuat suasana lebih asri, dan tertulis papan nama kecil d depan café tersebut “House of Cow” seingat saya begitu nama cafénya. Sesuai dengan namanya disitu memang menyediakan steak dengan bahan dasarnya danging sapi. Waktu saya turun dari motor dengan masih memakai helm saya bertanya terlebih dahulu apakah mereka menyediakan steak seperti yang saya inginkan, seorang bapak dengan tubuhnya yang gemuk menyambut saya sembari tersenyum menjawab “ ada mbak…disini semua halal, daging sapi asli karena kami bukan orang Bali asli mbak!” betapa senangnya saya setelah hampir satu jam keluar masuk resto dan café untuk mencari daging sapi yang akhirnya ketemu di “House of Cow”. Tidak disangka dengan tempat yang begitu sederhana tetapi memiliki makanan yang saaaaaangat uuueeeeanak bener-bener enak masakannya. Steaknya empuk, bumbunya enak, terus appetisernya ayam…aduh saya lupa namanya yang pasti saya belum pernah merasakan ayam dimasak dengan bumbu seperti itu, kemudian pizzanya tipis, crispy dan enaaaakkkk. Ternyataaaaa….pak Bondan “Mak Nyus” pernah mampir ke café itu, trus ada beberapa artis juga lho….ngga nyangka deh. Penampilan yang biasa-biasa aja tapi rasanya luar biasa. Kalau saya ke Ubud lagi, pasti akan mampir ke “House of Cow” itu.

Sepertinya tidak akan pernah ada habisnya ketika kita membicarakan Bali. Belum semua tempat di Bali saya kunjungi dan itu memotivasi saya untuk datang dan datang lagi kesana. Sesaat terlihat bahwa di Bali itu sama saja dengan tempat-tempat lain, tetapi ada hal yang tidak bisa diungkapkan yang membuat kita selalu terpesona, kagum dan ingin datang kembali kesana.

Senin, 06 Mei 2013